•  
  • Educ@tion The Best You Can Be
Sabtu, 11 Juni 2016 - 18:30:15 WIB
Saiki, Ing Kene, Ngene, Aku Gelem
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Madrasahku Punya Cerita - Dibaca: 718 kali

Saiki, Ing Kene, Ngene, Aku Gelem
Oleh; H.Fahrizal Ischaq,Lc.,M.Fil.I.
Sekarang, di sini, seperti ini, aku rela, itulah filsafat jawa yang mengajarkan kita tentang arti tawakkal kepada Tuhan Yang Maha Menentukan. Kita harus sadar betul, betapa kerasnya kita berusaha untuk sebuah capaian tertentu yang kita inginkan, bahwa semua kembali kepada ketentuan Tuhan.
Dalam hidup kita tentu punya keinginan. Santri ingin mendapatkan ilmu dan nilai yang memuaskan, seorang guru ingin melahirkan murid yang hebat, pegawai yang ingin cepat naik jabatan dan pejabat yang ingin dihormati masyarakatnya. Kesemua itu menjadi sunnatullah yang tidak bisa dihindari.
Namun yang sangat penting dari semua obsesi itu adalah prasangka kita kepada Tuhan. Prasangka itu dua macam, Uneg-uneg yang keluar dari lisan kita, juga, yang tidak kalah penting adalah suara hati (dhomir). Menjaga lisan untuk tidak suudzon dengan Tuhan kita mungkin kita mampu, tapi menjaga suara hati ini yang sungguh sangat berat untuk kita jaga kejernihannya.
Menikmati proses yang ada dan berusaha bersyukur atas apa yang ada pada hari ini adalah kunci dari filsafat di atas. Ngene Aku Gelem bukan berarti pasrah tak berdaya bahkan putus asa dalam menggapai mimpi, justru ini sebagai titik tolak melaju lebih kencang menuju pulau impian. Tidak juga lantas terus melihat ke belakang dalam sebuah perjalanan, tapi sudah semestinya sesekali merundukkan kepala melihat ke bawah menyandarkan harapan kepada Yang Kuasa atas segala yang ada. Intinya adalah harus terus berdoa dan meminta. Maka dalamnya selalu merunduk melihat ke bawah tak berdaya, luarnya harus tetap luar biasa.
Merasa butuh dan lemah di hadapan Yang Maha Kuasa, merasa tidak berdaya akan semua ini, kecil, hina, tak berarti adalah rasa yang harus ditunjukkan di depan kebesaran-Nya, tapi optimis, berani dan maju terus pantang mundur adalah sikap dalam menjalaninya. Kedua sikap inilah yang sejatinya bisa mempercepat kita menuju tujuan kita.
Maka usaha yang keras harus terus didampingi dengan doa yang kuat. Karena usaha tanpa doa adalah kesombongan, doa tanpa usaha adalah kemustahilan. Wallahua lam.
Disampaikan pada KIP (Kelas Inspirasi Pagi) 28 Maret 2016 di Madrasah Aliyah Bilingual, PM Al-Amanah Junwangi. Sidoarjo, Indonesia. http//;www.pma-collage.sch.id

 

 Saiki, Ing Kene, Ngene, Aku Gelem

 

Saiki, Ing Kene, Ngene, Aku Gelem

 



Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)