Info Sekolah
Selasa, 18 Jan 2022
  • Selamat Datang Di Madrasah Aliyah Bilingual

Jejak Islam di Belarusia

Kamis, 18 November 2021 Oleh : mabilingual

Adalah Belarusia merupakan salah satu negara pecahan Uni Soviet yang merdeka setelah pecahnya Uni Soviet. Terletak di Eropa Barat, Belarusia berbatasan dengan Rusia di timur laut, Ukraina di selatan, Polandia di timur serta Lithuania dan Latvia di barat laut.

Di negara yang beribukota Minsk itu, Islam tersebar sejak abad ke-14 dan didominasi oleh komunitas kecil etnis Tatar yang merupakan kelompok etnis Muslim asal Turki. Pada mulanya Muslim Tatar berasal dari Crimea dan Golden Horde namun kemudian mereka diundang oleh sejumlah pangeran Lithuania untuk menjadi pengawal atau penjaga perbatasan negara. Barulah pada abad ke-14 mereka hidup menetap di sana.

Secara umum Muslim Tatar terkenal sangat tangguh di bidang militer. Hingga akhir abad ke-16, etnis Muslim Tatar telah mencapai 100 ribu jiwa di Belarusia dan Lithuania. Sebagian besar mereka di Belarusia adalah penganut Sunni Hanafi. Umat Islam di sana hadir dengan warna tersendiri bagi kehidupan beragama di negara bekas Uni Soviet tersebut.

Keberadaan masjid pun bukan sesuatu yang asing di Belarus. Adalah masjid pertama di Belarusia dibangun pada abad ke-14 dan 15. Ibu kota Minsk mempunyai masjid yang dibangun pada abad ke-16 di distrik Nemiga. Sayangnya, pada 1940-an masjid tersebut dihancurkan oleh pemerintah komunis.

Beberapa tahun berikutnya pada 1994 masjid di Slonim dibuka. Menyusul kemudian dibangun juga masjid di Smilovichi pada 1996. Pada Juli 1997 sebuah masjid di Novogrudok juga diresmikan. Masjid lain juga bisa ditemukan di Ivye, Kletsk, dan Vidzy.

Dari segi kuantitas umat Muslim yang tinggal di Belarus diperkirakan mencapai 96 ribu jiwa atau sekitar satu persen dari total penduduk negara itu. Hidup mereka membentuk 25 komunitas yang tersebar di Minsk, Ivye, Smilovichy, Slonim, dan Navahrudak. Mereka juga hidup berdampingan dengan baik bersama masyarakat non-Muslim, terutama Kristen

Di sisi lain mereka juga menghadapi berbagai cobaan dari pemerintah. Ketika rezim komunis Soviet berkuasa, banyak rumah ibadah dihancurkan. Sebagai akibatnya umat Islam Belarus menghadapi masalah minimnya tempat ibadah.

Dikutip Republika.co.id sekarang ini hanya ada 10 masjid dan mushala yang beroperasi di Belarus. “Budaya Islam kini memiliki pijakan yang lemah di Belarus. Bahkan, untuk membeli daging halal saja sulit dilakukan di ibu kota Minsk,” ungkap Ryhor Astapenia dalam artikelnya “Is Radical Islam a Threat for Belarus?” yang dipublikasikan buletin Belarus Digest.

Selain minimnya masjid, Muslim Belarus juga menghadapi masalah lain yang tak kalah peliknya. Di antaranya adalah isu radikalisme yang mulai disematkan oleh pemerintah setempat kepada mereka.
Stigma buruk yang dialamatkan kepada Muslim itu tentu saja melukai hati umat Islam Belarus.

Bahkan, menurut sebuah sumber, di Badan Intelijen Belarusia (KGB) saat ini sudah dibentuk bagian khusus yang bertugas melakukan pemantauan segala bentuk aktivitas yang berhubungan dengan Islam. Tokoh Muslim Belarus, Rustam Hasenevich, mengatakan, kaum Muslimin di negaranya saat ini berada di bawah kontrol yang ketat dari pemerintah.

“Badan-badan intelijen mengendalikan segala sesuatu yang terjadi di kalangan umat Islam di negara ini. Pada Jumat, para agen mematai-matai aktivitas di masjid. Mereka tahu apa saja yang dibicarakan oleh orang-orang Islam,” ujarnya.

Bukan hanya itu tantangan yang dihadapi kaum Muslimin Belarus. Masih pada November 2015 lalu, pemerintah di negara itu mengeluarkan aturan yang melarang para Muslimah mengenakan hijab saat sesi pemotretan untuk foto paspor mereka. Larangan tersebut sempat menuai kritik dari kalangan umat Islam.

Mufti Belarus saat itu, Ali Varanovich, mengatakan, menutup aurat bagi Muslimah adalah kewajiban agama. Sehingga dengan demikian larangan yang dikeluarkan oleh pemerintah tersebut bisa mengarah pada diskriminasi terhadap kebebasan beragama.

“Masalah ini akan menjadi masalah serius. Karena, larangan itu secara efektif akan menumbuhkan sikap ketidakpercayaan antara komunitas Muslim dan pemerintah,” ujar Varanovich.

Meskipun menuai kritik dari kalangan umat Muslim, Pemerintah Belarus tetap melanjutkan kebijakan kontroversial tersebut. Dimana para Muslimah Belarus harus menanggalkan jilbab ketika menjalani sesi pemotretan untuk foto-foto di dokumen resmi mereka. []

Tulisan Lainnya

Tidak ada komentar

Tinggalkan Komentar